Menu

Ekonomi Dunia Lagi Remuk, Saatnya Hidup Hemat Tanpa Gengsi

ian/RN/JD

Jumat, 30 September 2022 - 14:19 WIB
Ekonomi Dunia Lagi Remuk, Saatnya Hidup Hemat Tanpa Gengsi

Ilustrasi/net

JD - Negara maju di Eropa sedang dilanda krisis. Untuk itulah kita wajib hidup hemat tanpa gengsi.

Bahkan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali memperingatkan soal ancaman krisis pangan global. Jokowi mengatakan, krisis pangan membuat ratusan juta orang di dunia mengalami kekurangan pangan akut.

"Tiap hari kita mendengar tentang krisis pangan. Bayangkan, 345 juta orang di 82 negara menderita kekurangan pangan akut, dan ini betul-betul mengenaskan," kata Jokowi dalam arahannya kepada pejabat negara di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta Pusat, Kamis (29/9/2022).

Dampak krisis pangan itu disebut cukup mengerikan. Bahkan, tercatat 19.700 orang meninggal setiap hari akibat kelaparan.

"19.700 orang setiap hari meninggal karena kelaparan," katanya menambahkan.

Selain itu, Jokowi mengungkapkan rasa syukurnya atas capaian Indonesia mendapat swasembada beras dari International Rice Research Institute (IRRI). Menurutnya Indonesia sudah swasembada beras sejak 2019.

"Kita patut bersyukur Agustus lalu kita dapat penghargaan pengakuan bahwa Indonesia sudah swasembada beras sejak 2019. Dan dianggap memiliki sistem ketahanan pangan yang baik dari IRRI yang juga didampingi oleh FAO (organisasi pangan dunia)," sambungnya.

Meski demikian Jokowi meminta Indonesia tidak telena atas capaian itu. Apalagi kondisi ekonomi dunia masih dilanda ketidakpastian, termasuk krisis pangan dan energi.

China Goyang

Mata uang Yuan Renminbi China habis dihantam Dolar Amerika Serikat (AS). Negeri Tirai Bambu yang dikenal kuat secara ekonomi juga sudha mulai oleng bin goyang.

Nilai tukar Dolar terus menguat terhadap Yuan Renminbi bahkan hingga ke level 1 Dolar sama dengan 7,2 Yuan.

Hal itu merupakan level paling rendah nilai tukar bagi mata uang China sejak tahun 2008. Yuan tercatat terus melemah nilai tukarnya, mata uang negeri Bambu sudah melemah sebesar 1,9% selama satu minggu ini.

Bank Sentral China People Bank of China (PBOC) pun telah memperingatkan agar masyarakat tidak bertaruh pada keuntungan yang didapatkan dari pergerakan mata uang Yuan, apalagi setelah penurunannya yang cepat terhadap dolar AS minggu ini.

"Jangan bertaruh pada apresiasi sepihak atau depresiasi nilai tukar Renminbi," kata bank sentral dalam sebuah pernyataan China di situs webnya, dilansir dari CNBC, Kamis (29/9/2022).

Pernyataan itu diketahui berasal dari pembacaan pidato Wakil Gubernur PBOC Liu Guoqiang pada pertemuan konferensi video tentang valuta asing hari itu.

PBOC juga memberikan pesan agar bank mengupayakan menjaga stabilitas di pasar valuta asing. Pernyataan dari PBOC diyakini dapat memperlambat laju pelemahan Yuan China.

Bank sentral China juga dilaporkan telah membuat langkah lain untuk mendukung nilai tukar Yuan bulan ini, termasuk mengurangi jumlah mata uang asing yang perlu dipegang.

Sebelumnya, PBOC telah melonggarkan suku bunga untuk menghidupkan kembali pertumbuhan ekonomi yang hancur akibat lockdown Covid-19. Di sisi lain, bank sentral AS, Federal Reserve menaikkan suku bunga acuannya demi mengendalikan inflasi.